Bisnis.com, SURABAYA — Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) memproyeksikan surplus pasokan gas pada wilayah kerja bagian Jawa, Bali dan Nusa Tenggara atau Jabanusa dapat mencapai 50 juta standar kaki kubik per hari (MMscfd) pada akhir paruh pertama tahun ini.

Kepala SKK Migas Dwi Soetjipto mengatakan, surplus pasokan gas itu disebabkan karena masifnya kegiatan onstream serta peningkatan kapasitas produksi dari beberapa lapangan di kawasan tersebut beberapa waktu terakhir.

Tjip mengatakan, rencana peningkatan produksi atau ramp up dari proyek strategis nasional Jambaran Tiung Biru (JTB) 100 persen kapasitas terpasang bulan depan menjadi penopang situasi pasokan gas berlebih akhir Juni 2023 nanti.

“JTB sendiri yang kemarin beroperasi 60 persen akan segera jadi 100 persen produksinya mencapai 192 MMscfd,” kata Tjip di Surabaya, Senin (22/5/2023).

Rencananya, kata Tjip, produksi gas dengan kapasitas penuh dari JTB bakal diserap oleh PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atau PLN sebanyak 100 MMscfd. Sisanya, dia menambahkan, upaya monetisasi gas bakal dilakukan lewat program konversi kendaraan hingga penetrasi pasar gas alam terkompresi atau compressed natural gas (CNG).

Selain itu, SKK Migas turut mengidentifikasi penambahan produksi yang signifikan pada akhir semester I/2023 yang disumbangkan oleh dua lapangan pengembangan Husky-CNOOC Madura Limited (HCML), yakni MAC dan MBH. Kedua lapangan itu berhasil menyumbangkan tambahan pasokan migas menjadi sekitar 140 MMscfd.

Sementara itu, potensi penambahan produksi gas juga turut terjadi pada Lapangan Bukit Panjang WK Ketapang milik Petronas dan WK Blora yang dikelola TIS Petroleum E&P Blora Pte Ltd. Kepastian itu disampaikan seiring dengan upaya kedua kontraktor kontrak kerja sama (KKKS) untuk mengamankan pembeli di sisi hilir migas saat ini.

Adapun, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memperkirakan Indonesia bakal mengalami surplus gas mencapai 1.715 MMscfd yang berasal dari beberapa proyek potensial dalam 10 tahun ke depan. Adapun, potensi gas bumi Indonesia cukup menjanjikan dengan cadangan terbukti sekitar 41,62 Tcf

Sementara itu, pembangunan pipa gas Semarang – Cirebon maka jalur distribusi gas akan terintegrasi sehingga pasokan gas dari JTB nantinya tidak hanya dimanfaatkan oleh sektor industri di Jawa Timur dan Jawa Tengah melalui jalur transportasi gas pipa Gresik-Semarang yang sudah siap, tetapi berperan pula bagi pemenuhan kebutuhan gas hingga Jawa Barat.

“Seiring dengan momentum pemulihan perekonomian nasional, maka keberhasilan gas on stream Proyek JTB akan meningkatkan pasokan gas sehingga berdampak pada dukungan bagi peningkatan kapasitas industri nasional sehingga memberikan dampak positif bagi pemulihan ekonomi,” jelas Tjip.

Sumber: Bisnis.com