Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah naik ke level tertinggi dalam dua minggu lantaran terdorong oleh gangguan ekspor dan penguatan pasar yang lebih luas.

Mengutip Bloomberg, Jumat (31/3/2023), aksi pemogokan di Prancis atas reformasi pensiun telah memaksa pemerintah untuk memanfaatkan stok bahan bakar strategisnya, sementara ekspor minyak Irak dari Turki masih terhenti karena ketidaksepakatan antara Baghdad dan Kurdistan terus berlanjut.

Sebagian besar pengamat pasar masih bertaruh pada pemulihan China yang menopang reli harga akhir tahun ini, dan komentar dari dua perusahaan minyak utama negara itu melukiskan pandangan yang optimistis

PetroChina dan Cnooc Ltd. mengatakan pemulihan ekonomi domestik dapat membantu meredam dampak dari pertumbuhan global yang lebih lambat. Di sisi lain, analis memperingatkan bahwa permintaan bahan bakar jet yang tertinggal di China menjadi pertanda buruk untuk perkiraan bahwa minyak mentah akan kembali US$100 per barel tahun ini.

Harga minyak West Texas Intermediate telah memulihkan setengah dari kerugiannya sejak awal Maret, naik lebih dari US$6 dari posisi terendah 15 bulan setelah kejatuhan Silicon Valley Bank.

Perputaran WTI telah didorong oleh meningkatnya kepercayaan pada sektor perbankan dan gangguan pasokan, tetapi tolok ukur tersebut masih berada di jalur penurunan bulanan kelima.

Pada penutupan perdagangan Kamis (31/3/2023) waktu setempat, harga minyak mentah berjangka West Texas Intermediate untuk pengiriman Mei terangkat US$1,4 atau 1,92 persen, menjadi menetap di US$74,37 per barel di New York Mercantile Exchange.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Mei naik 99 sen atau 1,26 persen, menjadi ditutup pada US$79,27 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sumber: Bisnis.com