Liputan6.com, Jakarta Pengamat Pasar Modal dan CEO Finvesol Consulting Fendy Susianto menilai, posisi PT Pertamina Geothermal Energy (PGE) yang bermain di bidang eksplorasi dan eksploitasi panas bumi untuk pembangkit listrik masih sulit.

Pasalnya, kontribusi energi baru terbarukan (EBT) terhadap sektor kelistrikan masih terlampau kecil.

“Kontribusi energi EBT sendiri dalam penggunaan bahan bakar pembangkit listrik masih sangat minim, yakni sekitar 13 persen per Desember 2022,” ujar Fendy, Rabu (1/3/2023).

Menurut dia, itu turut menjadi salah satu faktor ketidaksiapan Subholding Pertamina Power & New Renewable Energy (PNRE) ini untuk melantai di bursa saham.

Belum lagi struktur investor perseroan yang lebih banyak dari institusional sponsorship. “Porsi ritel relatif kecil dan itu mengakibatkan perdagangan sahamnya tidak terlalu atraktif,” kata Fendy.

Di lain sisi, ia menyebut perseroan merupakan entitas dengan tipikal intensive capital, yang menyiratkan kebutuhan modal sangat tinggi dalam menjalankan bisnisnya. “Hal ini membuat PGE tergolong pada high risk stock investment atau saham dengan risiko tinggi.

Sementara, para investor mengharapkan imbal hasil (return) yang tinggi pada saham-saham dengan risiko yang tinggi pula,” ungkapnya.

Sehingga, Fendy menilai para investor dengan profil agresif dihadapkan oleh banyak pilihan saham risiko tinggi dengan imbal hasil yang lebih menjanjikan.

“Hal ini membuat saham PGE agak sulit masuk radar investor karena pilihan yang menarik lebih banyak,” pungkasnya.

Sumber: https://www.liputan6.com/bisnis/read/5221151/baru-13-persen-kontribusi-ebt-ke-pembangkit-listrik-masih-minim